BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Sistem Pendidikan Agama Islam di Indonesia telah
diatur dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Agama Islam Nasional (USPAIN).
Dalam USPAIN menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha dasar untuk
mempersiapkan anak didik dalam kegiatan bimbingan, pengajar dan atau latihan
bagi peranannya di masa yang akan datang (Bab pasal 1). Ketentuan ini jelas
berimplikasi pada pemikiran yang akan datang. Bekal ilmu yang diterima anak
didik di sekolah merupakan bekal hidup dimasa yang akan datang.
Masalah putus sekolah,
adalah masalah anak-anak seluruh dunia. Ini itulis dalam laporan Situasi Anak-anak di Dunia 1997 (UNICEF) sebagai
berikut :
“secara keseluruhan 30 % dari
anak-anak di Negara berkembang yang mendaftar di Sekolah dasar tidak
menyelesaikannya. Disejumlah Negara angka ini mening kat menjadi 60 %”
(1997:35).
Untuk
meningkatkan kualitas manusia Indonesia di masa depan kita meng harapkan peran
dunia Pendidikan Agama Islam yang lebih
besar. Untuk itu harus
dikembang kan sistem Pendidikan Agama Islam yang benar-benar mampu mengatasi
tuntutan jaman.
Salah satu
kendala peningkatan mutu Pendidikan Agama Islam di Indonesia tingginya angka
drop out dan tidak melanjutkan sebagai siswa sekolah dasar dan menengah ke
jenjang yang lebih tinggi akibat rendahnya kemampuan orang tua membiayai
anak-anaknya, apalagi saat ini kita sedang dilanda krisis moneter.
Badai krisis
ekonomi, krisis keuangan, krisis politik, krisis kepercayaan, serta berbagai
bentuk krisis lainnya, tiba-tiba menimpa bangsa secara tidak terduga. Ternyata
krisis tersebut di dalam seluruh aspek keehidupan bangsa kita. Mau tidak mau
rakyat Indonesia merasakan dampak krisis tersebut, terlebih bagi masyarakat
strata menengah ke bawah.
Dunia Pendidikan
Agama Islam merasakan dampak krisis tersebut. Hal ini ditandai dengan semakin
banyaknya anak usia sekolah yang tidak dapat bersekolah dan banyak siswa
terancam putus sekolah. Besarnya angka tersebut disebabkan tidak adanya biaya
untuk putra-putrinya.
Jumlah
penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan sekitar 22 juta jiwa orang,
termasuk di dalamnya sekitar 5 juta anak usia SD, SMP dan 1.5 juta SMP 02
MAJENE menghadapi kesulitan membayar
uang sekolah dan kebutuhan hidup, tidak mustahil mereka akan putus sekolah yang
akibatnya program wajib belajar akan gagal (Harian Surya, 6 Pebruari 1998:5).
Berdasarkan
kenyataan itulah, maka kami sebagai guru Pembimbing di salah satu SMP 2 Majene berupaya
memberikan layanan baik melalui informasi secara kelompok maupun individual
dengan maksud menumbuhkan rasa kebersamaan, kesetia kawanan, serta solidaritas
sesama siswa SMP 02 MAJENE dalam upaya mengantisipasi siswa yang rawan putus
sekolah sebagai akibat orang tua yang tidak mampu mebiayai keperluan sekolah.
Upaya ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang mana upaya guru pembimbing tersebut sesuai dengan
prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individual yaitu :
a) Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam berurusan
dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisil individu terhadap
penyesuaian diri di rumah, di sekolah
serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan sebaliknya pengaruh lingkungan
terhadap kondisi mental dan fisik individu.
b) Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan
merupakan factor timbulnya masalah pada individu dan kesemuanya menjadi
perhatian utama pelayanan bimibingan (Kurikulum SLTP, 1995 : 2).
Karena
hakekat bimbingan dalam Pendidikan Agama Islam di sekolah ialah proses
memberikan bantuan kepada siswa agar mereka sebagai pribadi memiliki pemahaman
yang benar akan dirinya pribadi dan dunia sekitarnya, dapat mengambil keputusan untuk melangkah
maju secara optimal dalam perkembangan dan dapat menolong dirinya sendiri.
Dengan adanya
kegiatan ini diharapkan jumlah tersebut dapat diperkecil atau setidak-tidaknya
mencegah siswa putus sekolah atau rawan putus sekolah. Selain itu kegiatan ini
juga bermaksud turut berpartisipasi dalam melaksanakan program wajib belajar 9
tahun yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Agama Islam Nasional (UUSPAIN), 1989. dalam
undang-undang tersebut ditegaskan bahwa warga negara yang berumur 7 tahun
berkewajiban mengikuti Pendidikan Agama Islam dasar atau Pendidikan Agama Islam
yang setara sampai tamat.
Jadi jelas
anak bangsa wajib bersekolah di Pendidikan Agama Islam dasar yaitu 6 tahun di
SD atau yang sederajat, ditambah 3 tahun di SLTP atau yang sederajat. Maka demi
mensukseskan program pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun penulis tergerak
untuk meneliti factor penyebab siswa SMP 02 MAJENE yang rawan putus sekolah dan
solusi apa yang nantinya bisa dilakukan seorang guru pembimbing di unit sekolah
masing-masing untuk untuk mencegah siswa putus sekolah (drop out)
Wajib
belajar 9 tahun dirancang tentu tidak mengabaikan pula peningka tan mutu warga
sekolah dan sekolahnya itu sendiri. Ini dilihat dari upaya pemerin tah antara
lain : memberikan bantuan ke sekolah berupa fisik dan non fisik. Bantu an
berupa fisik antara lain rehab ruang belajar dan ruang penunjang lainnya,
membangun ruang kelas baru untuk menampung siswa, peralatan dan media belajar
lainnya, pemberian bea siswa yang tidak mampu. Bantuan non fisik antara lain mengadakan pelatihan
baik guru , kepala sekolah, komite sekolah, bahkan siswa itu sendiri.
Upaya-upaya
Pemerintah Pusat dan Daerah di atas untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun,
yang dimaksudkan agar tidak ada anak putus sekolah karena factor biaya sekolah.
Maka sudah sepantasnyalah guru pembimbing mem berikan layanan Bimbingan dan
Pendidikan Agama Islam secara maksimal pada siswa yang sebagai tindak nyata
turut mensukseskan wajib belajar 9 tahun agar bias memini-malkan siswa putus
sekolah di lingkungan sekolahnya masing-masing.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka
menarik bagi peneliti untuk mengangkat permasalahan di atas sebagai masalah
dalam penelitian ini, oleh karena itu penulis memfokuskan judul : “Layanan
Bimbingan Dengan Pendidikan Agama Islam Dalam Upaya Mencegah Siswa Putus
Sekolah Di SMP 02 MAJENE Sulawesi Barat”
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di
atas, maka perumusan masalah pada
penelitian ini sebagai berikut :
1.2.2 Data
pendukung apakah yang bisa menunjukkan siswa rawan putus sekolah di SMP 02 Majene?
1.2.3 Faktor
apa saja yang menjadi penyebab siswa rawan putus sekolah di SMP 02 Majene?
1.2.4 Layanan Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam apa saja yang akan digunakan untuk
mencegah siswa putus sekolah di SMP 02 Majene?
1.3
Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1
Untuk
mengetahui data pendukung yang menunjukkan siswa rawan putus sekolah di SMP 02
Majene.
1.3.2
Untuk
mengetahui factor penyebab siswa rawan putus sekolah di SMP 02 Majene.
1.3.3
Untuk
mendapatkan gambaran secara lengkap layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama
Islam yang diberikan pada siswa untuk mencegah siswa putus sekolah di SMP 02 Majene.
1.4 Manfaat
Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1.4.1
Secara praktis, dari hasil temuan penelitian ini
diharapkan bermanfaat bagi para implementor Pendidikan Agama Islam dasar dan
menengah untuk mencegah siswa putus sekolah.
1.4.2
Secara teoritis diharapkan dapat menambah khasanah ilmu
pengetahuan dan pengembangan suatu konsep layanan Bimbingan dan Konse ling di
tingkat Sekolah Menegah Atas dan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1 Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam
Menurut Bimo Walgito dalam bukunya Bimbingan dan
Penyuluhan di sekolah diutarakan sebagai berikut :
“Bimbingan dan Penyuluhan merupakan
kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa
manusia di dalam kehidupannya sering menghadapi persoalan-persoalan yang silih
berganti. Persoalan yang satunya dapat diatasi, persoalan yang
lain timbul demikian seterusnya. Berdasarkan kenyataan bahwa manusia itu tidak
sama satu sama yang lain, baik dalam sifatnya maupun kemampuan-kemampuannya,
maka ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa adanya bantuan dari
pihak lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak sanggup mengatasi
persoalan-persoalannya tanpa adanya bantuan atau pertolongan dari orang lain.
Bagi yang akhir inilah Bimbingan dan Penyuluhan sangat diperlukan” (1985:13)
Di SMP 02 Majene dan yang sederajat, pelaksanaan
Bimbingan dan Penyuluhan atau Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang
selanjutnya, dilakukan oleh seorang guru pembimbing atau konselor. Banyak
sekali difinisi konselor, antara lain sebagai berikut : Konselor adalah seorang
tenaga profesional yang memperoleh Pendidikan Agama Islam khusus di Perguruan
Tinggi dan mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan Bimbingan”
(Winkel,1981:52)
Pengertian di atas adalah
salah satu pengertian konselor dalam arti profesio nalisme yang dimiliki. Dalam
menjalankan tugasnya sebagai konselor perlu mem punyai kualitas yang memadai
serta Pendidikan Agama Islam dan pelatihan yang sesuai. Hal ini selaras dengan
batasan Konselor sebagai berikut : “Konselor adalah tenaga yang profesional
baik pria maupun wanita yang mendapat Pendidikan Agama Islam khusus. Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam secara ideal berijasah dari FIP Jurusan Pendidikan
Agama Islam dan Bim bingan atau program studi yang sejenisnya”.(Sukardi,1985:8)
Lebih jauh dijelaskan dalam Pedoman Pelaksanaan
Bimbingan dan Kon seling khususnya Bab IV tetang beban tugas guru Pembimbing
atau Konselor adalah sebagai berikut : Sesuai dengan ketentuan Syarat Keputusan
Bersama Menteri Pendidikan Agama Islam dan Kebudayaan Kepala Badan Administrasi
Kepegawaian Nomor: 0433/P/1993 dan Nomor 25 Tahun 1993 diharapkan di setiap sekolah
ada petugas yang melaksanakan Layanan Bimbingan
yaitu guru pembimbing atau konselor dengan rasio satu orang guru
pembimbing atau konselor untuk 150 orang peserta didik.
2.2 Rawan Putus Sekolah (rawan drop out)
2.2.1 Pengertian rawan putus sekolah (rawan drop out)
Pendidikan Agama Islam sangat penting bagi diri
manusia. namun tidak semua manusia mempunyai kesempatan memperoleh pendidikan,
begitu juga siswa ada yang putus sekolah karena satu dan lain hal. Sebelum
mengetahui sebab-sebab terjadi nya rawan putus sekolah perlu penulis jelaskan
pengertian siswa rawan putus sekolah.
Pengertian dropout adalah seorang yang keluar dari
sekolah sebelum lulus (John dan Shadely,1975:200). Jadi siswa rawan putus
sekolah bisa diartikan bahwa siswa yang mempunyai kecenderungan putus sekolah
atau meninggalkan sekolah sebelum dinyatakan tamat sekolah.
Pengertian lain anak rawan putus sekolah menurut pedoman
anak usia sekolah dari keluarga miskin (1999:2) adalah anak usia sekolah dari
keluarga miskin yang masih bersekolah namun memerlukan bantuan biaya Pendidikan
Agama Islam agar dapat menikmati Pendidikan Agama Islam dasar sampai tamat.
2.2.2
Sebab-sebab siswa rawan putus sekolah
Menurut C.E. Beeby (dalam
Anwar Bahsoan dan Naswi Idris,1981:195) dalam bukunya yang berjudul Pendidikan
Agama Islam di Indonesia, mengungkapkan sebab siswa putus sekolah, yaitu
masalah sosial ekonomi.
Tingkat perkembangan ekonomi Negara kita yang seperti
ini, maka alasan paling umum diberikan mengenai terlalu cepatnya anak-anak
berhenti sekolah adalah karena tidak adanya biaya dan bekerja demi membantu
perekono mian keluarga.
Terbatasnya kesadaran orang tua terhadap pendidikan,
selain kedua penye bab terjadinya putus sekolah di atas, juga ada penyebab yang
kemungkinan hanya kecil yaitu dikarenakan cara mengajar guru di sekolah yang
jelek. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh C.E Beeby yang dikutip
oleh Bahasoan dan Idris, yaitu : “Pendidikan
Agama Islam yang manapun menyimpulkan hanya kecil kemungkinan bahwa kebosanan,
tidak adanya kemajuan dan jeleknya cara mengajar merupakan penyebab utama putus
sekolah” (Bahsoan dan Idris, 1981:96)
Lebih lanjut dikatakan oleh Singgih D. Gunarsa tentang
sebab-sebab siswa putus sekolah ialah :
1.
Mempunyai nilai yang rendah
2.
Kurang motif belajar
“Siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran yang ada di sekolah karena
suatu sebab pada diri mereka sendiri dan dari luar diri mereka. Penyebab dari
luar antara lain guru kurang memberi semangat belajar pada siswa yang akhirnya
mereka membolos dari sekolah” (1975:57)
Ada lagi faktor penyebab
siswa rawan putus sekolah. Menurut USMPn Faktor penyebab itu antara lain :
1.
Pendapatan perkapita masih rendah, sehingga banyak anak
sekolah tidak dapat menikmati pelajaran di sekolah. Selain itu banyak siswa yang terpaksa berhenti
sekolah sebelum tamat belajar karena kekurangan biaya.
2.
Banyak orang tua yang masih beranggapan bahwa
Pendidikan Agama Islam anak-anaknya tidak perlu tinggi.
3.
Jumlah siswa (usia sekolah) belum seimbang dengan
Pendidikan Agama Islam yang dapat disediakan (ruang belajar, guru, dan buku
pelajaran) (1997:40)
Menurut
penelitian hasil survei Propinsi daerah Sumatra barat ke pedesaan ditemukan
pula bahwa ada 5 sebab anak rawan putus sekolah
yaitu :
a.
Orang tua tidak mampu membayar keperluan sekolah anak
mereka.
b.
Orang tua mengharapkan bantuan segala tenaga mereka
untuk bekerja di sawah / di ladang atau menjaga adik-adiknya di rumah.
c.
Orang tua merasa rugi meneruskan sekolah anak-anak
mereka yang telah dapat menghasilkan.
d.
Sekolah kurang memberikan motivasi belajar yang baik
kepada anak.
e.
Pengaruh kelompok kawan sebaya (peer group) yang tidak
bersekolah
Layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam
Melayani siswa yang cenderung putus sekolah tidak
dapat dipisahkan dari factor penyebab siswa putus sekolah oleh karena itu
mencari penyebab siswa putus sekolah merupakan hal yang utama layanan Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam untuk menangani siswa rawan putus sekolah.
Layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang bisa
diberikan ke siswa ada tujuh layanan dan lima kegiatan pendukung (Depdikbud,
1995:33) sebagai berikut :
1.
Layanan Orientasi, layanan ini ditujukan untuk siswa
baru dan untuk pihak-pihak lain (terutama orang tua) guna memberikan pemahaman
dan penyesuaian diri (terutama penyesuaian siswa) terhadap lingkunan sekolah
yang baru dimasuki.
2.
Layanan Penempatan dan penyaluran Layanan Penempatan
dan Penyaluran memungkinkan siswa berada pada posisi dan pilihan yang tepat
yaitu : Berkenaan dengan penjurusan, kelompok belajar, pilihan
pekerjaan/karier, kegiatan ekstra kurikuler, program latihan, pendidi kan yang
lebih tinggi sesuai dengan kondisi fisik dan fsikisnya.
3.
Layanan Pembelajaran dimaksudkan untuk memungkinkan
siswa memahami dan mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,
kecepatan dan kesulitan belajarnya serta tuntutan kemampuan yang berguna dalam
kehidupan dan perekembangan dirinya.
4.
Layanan konseling perorangan. Konseling bertujuan agar
klien pada akhirnya memperoleh konsep diri yang memadai, mengerti :
a.
Dirinya sendiri
b.
Orang lain di sekitarnya
c.
Pendapat orang lain mengenai dirinya
d.
Harapan-harapan yang hendak dicapai
e.
Kepercayaan terhadap dirinya
5.
Layanan konseling perorangan memungkinkan siswa mendapat layanan langsung
secara tatap muka dengan guru pembimbing
dalam rangka pembahasan dan pengentasan masalahnya.
6.
Layanan Bimbingan Kelompok. Layanan ini dimaksudkan
untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari
nara sumber (terutama dari guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan
sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan
masyarakat.
7.
Layanan Konseling Kelompok. Layanan ini memungkinkan
siswa memperoleh kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang
dialami melalui dinamika kelompok. Masalah-masalah yang dibahas merupakan
masalah perorangan yang muncul di dalam kelompok itu yang meliputi berbagai
masalah dalam segenap bidang bimibingan (bimbingan pribadi, sosial, belajar dan
karier).
Kegiatan pendukung
Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam meliputi kegiatan pokok aplikasi
instrumentasi Bimbingan dan Konseling. Himpunan data, konferensi kasus,
kunjungan rumah, dan alih tangan kasus. Semua jenis kegiatan pendukung
dilaksanakan di sekolah dan secara langsung dikaitkan pada keempat bidang
bimbingan, serta disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa . Hasil
kegiatan pendukung itu yang selanjutnya dipakai untuk memperkuat satu atau
beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling.
Himpunan data adalah kegiatan dalam bentuk
pengumpulan data, pengelo laan dan perhitungan berbagai informasi tentang siswa
dan latar belakangnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data yang digunakan oleh konselor ada beberapa yaitu angket
tertulis, interview/ wawancara, kunjungan rumah atau home visit, autobiografi,
catatan anekdot, skala penilaian, sosiometri, tes psikologis (Winkel, 1981:65)
Pihak-pihak yang terkait dalam layanan Bimbingan dan
Pendidikan Agama Islam
Untuk mengetahui pihak-pihak yang terkait dengan
konselor dapat disimak pada kurikulum 1994 dalam seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam di sekolah Buku I : Pelayanan Bimbingan dan
Pendidikan Agama Islam mencakup secara vertical dan horizontal, pada umumnya
dapat diidentifikasikan secara garis besar sebagai berikut :
Personil pada Kanwil atau Kandep Depdikbud. Yang bertugas melakukan
pengawasan (penyelidikan) dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam di satuan-satuan pendidikan.
Kepala Sekolah sebagai penanggungjawab program
Pendidikan Agama Islam yang menyeluruh (termasuk di dalamnya program Bimbingan
dan Konseling) di satuan Pendidikan Agama Islam masing-masing.
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian
diskreptif karena hasil penelitian ini berepa diskripsi atau gambaran siswa
yang rawan putus sekolah dan diskripsi layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama
Islam di SMP 02 MAJENE dalam mengantisipasi siswa yang rawan putus sekolah.
Penelitian diskripsi ini menurut
Suharsimi Arikunto tidak menggunakan pengujian hipotesis (non hipotesis) tetapi
dalam penelitian ini merupakan istilah umum yang mencakup berbagai teknis
diskriptif (1997:245)
Moloeng (1998) mengatakan bahwa : “Manusia sebagai
instrument utama dalam penelitian kualitatif sangat tepat instrument bukan
manusia tidak dapat mengadakan penyesuaian di latar penelitian yang sarat dengan kenyataan dan fenomena
serta keadaan baik yang tampak dan tersembunyi. Hanya manusialah yang dapat
berhubungan dengan informasi dan mampu memahami makna yang terkandung di
dalamnya.
Tahap-tahap penelitian kualitatif ada tiga yaitu :
tahap pra lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap analisis data (1989:85).
Tahap pra lapangan meliputi penyusunan rencana, memilih lokasi, mengurus
perijinan, penjajakan lapangan, memlih informan, serta menyiapkan peralatan
penelitian. Tahap pekerjaan lapangan kegiatannya terdiri dari usaha memahami
latar penelitian dan mempersiapkan diri, memasuki lapangan dan berperan serta
sambil mengumpulkan data. Tahap analisis data pada umumnya adalah mengatur,
mengelompokkan, memberi kode dan mengkategori kan data, baik data yang berupa
pernyataan responden maupun data dari catatan refleksi baik yang bersumber dari
keadaan, peristiwa maupun situasi. Teknik ini bertujuan mendiskripsikan fenomena
atau fokus studi yang menjadi sasaran penelitian secara mendalam.
3.2 Lokasi dan Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada beberapa siswa di
lingkungan SMP 02 Majene yang diduga rawan putus sekolah. Alasan kenapa
siswa-siswa tersebut dijadikan subyek penelitian, antara lain karena
siswa-siswi tersebut mempunyai kecenderungan rawan putus sekolah yang didukung
dari bukti dokumentasi dan laporan awal dari Wali Kelas serta pihak lain.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data dan bebagai informasi yang
diperlukan dalam penelitian maka diperlukan suatu metode pengumpulan data yang
tepat. Ketepatan dalam penelitian suatu merode ini akan memberikan tingkat
kedalaman, keleluasaan serta komplektisitas data yang dikumpulkan, sehingga
data yang diperoleh benar-benar data yang akurat. Beberapa metode pengumpulan
data yang digunakan adalah metode wawancara, pengamatan dan dokumentasi.
Pemilihan ketiga metode tersebut dengan pertimbangan agar hasil antar metode
yang satu dengan lainnya dapat saling melengkapi dalam hal jangkauan data yang
terkumpul.
Adapun secara rinci tentang ketiga metode pengumpulan
data yang dipilih tersebut adalah sebagai berikut :
3.3.1
Wawancara
Wawancara adalah proses interaksi dan komunikasi untuk
memperoleh informasi dengan bertanya langsung dengan informan. Metode ini
menurut Sutrisno Hadi digunakan untuk mengetes kebenaran dan kemantapan data
yang diperoleh dengan cara lain pada saat-saat tertentu (1986). Jadi wawancara
bukanlah suatu metode yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dengan
metode lain.
Metode wawancara dapat dibedakan menjadi dua yaitu
wawancara ber struktur dan wawancara tak berstruktur. Wawancara berstruktur
adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sedangkan wawancara tak berstruktur adalah
responden mendapat kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan buah pikiran,
pandangan, perasaan nya tanpa diatur ketat oleh peneliti (Moloeng,1989:139).
Wawancara yang digunakan oleh peneliti ialah wawancara
tak berstruktur dengan alasan sebagai berikut :
Pertama, agar situasi pada saat berlangsungnya
wawancara tak terkesan formal, sehingga
peristiwa atau keadaan dapat sekaligus diungkap sejauh masih terkait dengan
tujuan penelitian.
Kedua, informasi yang digali dari informan tidak bersifat baku
tunggal, tetapi dapat bersifat variatif.
Ketiga, walaupun tidak menyususn pedoman wawancara namun
pewawancara telah memiliki konsep yang akan ditanyakan pada informan.
Keempat, dapat mengungkap informan lebih mendalam, lebih jelas,
lebih mantap karena ada kemungkinan mengejar jawaban yang telah diberikan,
melakukan konfrontasi, menafsirkan ekspresi wajah serta menafsirkan perasaan
informan saat wawancara berlangsung.
3.3.2 Pengamatan (Observasi)
Metode pengamatan digunakan dengan alasan memungkinkan
pengamat untuk melihat dunia sebagaimana
yang dilihat oleh subyek penelitian, menangkap arti fenomena dari segi
pengertian subyek serta memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan
dihayati oleh subyek (Moloeng, 1989).
Adapun alasan menggunakan metode pengamatan adalah
sebagai berikut :
Pertama, banyak fenomena-fenomena dari perilaku konselor ataupun
guru yang lain dalam menangani siswa yang cenderung rawan putus sekolah yang
tidak dapat diselidiki kecuali dengan metode pengamatan.
Kedua, metode ini tak tergantung self rapport antara pengamat
dengan informan, sehingga data yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh penafsiran
dan persepsi subyek yang diteliti.
Ketiga, memperkecil kemungkinan menggangu aktivitas subyek
penelitian.
3.3.3
Dokumentasi
Dokumentasi adalah semua jenis rekaman atau catatan
sekunder lainnya seperti surat-surat, memo atau nota, pidato-pidato, buku-buku
harian, foto-foto, berita koran, hasil-hasil penelitian, agenda kegiatan dan
sebagainya.
Dalam penelitian ini sebagaian besar data yang
digunakan bersifat kuali tatif, maka data akan diolah dengan analisis
kualitatif yang berpedoman pada langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Peringkasan data (data reduction) dimana data mentah
diseleksi, yang akan disederhanakan dan diambil intinya.
2.
Data disajikan sacara tertulis berdasarkan kasus-kasus
faktual yang saling ber kaitan. Tampilan data (data display) ini digunakan
untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
3.
Menjabarkan dan menghubung-hubungkan proposisi-proposisi
yang muncul dari data khusus dan kemudian menyusunnya menjadi model kausal.
4.
Menarik kesimpulan atau verifikasi atas pola yang ada
dalam fenomena-fenome na organisasi tersebut kemudian membuat prediksi-prediksi
atas perkembangan selanjutnya.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
4.1 Penyajian Hasil Penelitian
Penyajian hasil penelitian dibedakan 3 tahap yaitu tahap pra lapangan,
tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data.
4.1.1 Tahap ini, dilakukan penyusunan rencana yaitu
jadwal sosialisasi kerjasama yang baik antar warga sekolah untuk menemukan dan
penanganan siswa rawan putus sekolah, denga tujuan guru pembimbing bisa sedini
mungkin mengetahui siswa-siswa yang diduga rawan putus sekolah serta berupaya
semaksimal mungkin memberikan layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam terhadap
siswa yang diduga rawan putus sekolah. Dari hasil penelitian diketahui
data-data sebagai berikut :
Hasil Wawancara
1. Hasil wawancara dengan karyawan sekolah
“Pak saya dengan dari tetangga bahwa siswa A tersebut
akhir-akhir ini sering bekerja sebagai Pengamen di desa tetangga kampung saya,
yang kadang dilakukan pada jam-jam sekolah”
2. Hasil wawancara dengan siswi B :
“Saya mungkin
tidak bisa sampai lulus kelas 3 bu, karena saya akan dinikah kan jika ibu
datang dari merantau”
3. Hasil wawancara dengan wali kelas 3 :
“Anak C ini sering terlambat masuk sekolah dan kadang-kadang tidak
masuk tanpa keterangan, mohon untuk ditangani lebih lanjut, sebab saya sudah
jengkel tidak ada perubahan”
4. Hasil wawancara dengan wali kelas 2 :
“Anak D ini sudah saya bimbing dan saya beri pengarahan 2 kali tetapi
tetap saja sering tidak masuk tanpa keterangan dan juga sering tugas guru tidak
dikerjakan”
5. Hasil wawancara dengan guru bidang studi :
“Anak E pada jam saya sudah 3 kali tidak ikut pelajaran saya, padahal
kata temannya tadi ada dan mengikuti pelajaran. Jika saya Tanya ada alasannya
sakitlah dan pernah saya lihat memang tidur di ruang UKS”.
6. Hasil wawancara dengan wali kelas 2 :
“Siswa F sering tidak masuk tanpa keterangan tetapi anehnya nilai
ulangan yang diberikan ke saya pasti ada nilainya dan nilai cukup 6, jadi
pas-paslah”.
Keterangan responden (nama sengaja dirahasiakan)
1.
Siswa A, siswa SMP 02 MAJENE ………………… kelas 2
2.
Siswa B, siswa
…………………….. kelas
3
3.
Siswa C, siswa
………………………………… kelas 3
4.
Siswa D, siswa
…………………………. kelas
2
5.
Siswa E, siswa
……………………………….. kelas
2
6.
Siswa F, siswa
……………………………….. kelas
2
Hasil Dokumentasi
Hasil dokumentasi yang dimaksud disini adalah :
1. Buku absensi siswa :
Buku absensi siswa ini
setiap minggu dilaporkan oleh sekretaris kelas ke guru pembimbing untuk
mengetahui siswa-siswa mana yang sering tidak masuk tanpa keterangan.
2. Buku daftar nilai guru
Buku daftar nilai guru yang selalu dibawah
setiap hari sebagai perangkat mengajar
ada juga tetang absensi siswa pada saat guru mengajar. Ini digunakan pula
sebagai dokumen pelengkap data siswa rawan putus sekolah.
3. Buku pelanggaran tata tertib
sekolah
Buku Pelanggaran tata tertib sekolah ini ada di
ruang guru dan yang mengisi adalah guru
piket setiap hari, sehingga bisa segera diketahui jika ada siswa yang tidak
masuk tanpa keterangan, siswa yang terlambat serta siswa yang melakukan
pelanggaran tata tertib lainnya. Ini juga sebagai dokumen yang baik untuk
menghimpun data.
4.1.2. Tahap Pekerjaan Lapangan
Tahapan ini merupakan tahap memahami latar penelitian,
memasuki lapa ngan atau lingkungan siswa, berperan aktif, serta sambil
mengumpulkan data pe-kerjaan yang harus dilalui dalam proses penelitian.
Hasil penyajian dengan menggunakan metode wawancara dan dokumentasi,
pengamatan dipaparkan latar belakang masalah sebagai berikut :
4.1.2.1 Siswa A
seorang anak laki-laki yaitim piatu yang tinggal dengan nenek dan kakaknya.
Siswa di rumah membantu kakaknya mencari nafkah di waktu luang kegiatan sekolah
siswa mencari nafkah dengan mengamen di tetangga kampungnya, perlu diketahui
tempat tinggal siswa adalah jauh dan masyara kat sekitar mata pencahariannya
sebagian besar adalah petani dan ada yang mencetak batu bata dan kuli kasar.
Hasil penelitian ini didapat dari hasil wawancara
dan pengamatan langsung ke lokasi siswa yang bekerja sebagai pengamen,
kecapaian dalam mencari nafkah atau bahkan saat jam sekolah sedang mencari
nafkah demi kebutujan keluarga. Siswa seorang yang pendiam yang duduk di kelas
2.
4.1.2.2 Siswa B, siswa adalah
seorang putri di SMP 02 MAJENE siswi ini tinggal dengan neneknya saja yang
sudah tua, ayah sudah cerai dengan ibunya, ibunya bekerja sebagai pedagang di
luar Jawa yang gajinya dikirim ke neneknya untuk membiayai hidup sehari-hari.
Siswa adalah pandai bergaul baik dengan teman sesama putri maupun putra. Jadi
siswa diduga rawan putus sekolah bukan karena sering absen tetapi masalah
keluarga.
4.1.2.3 Siswa C adalah seorang
siswa putra yang orang tuanya dari keluarga cukup ekonominya. Ayahnya adalah
seorang pedagang pupuk, tempat tinggal siswa cukup jauh dari sekolah yaitu
kurang lebih 7 km dan transportasi umum sulit, Siswa yang berbadan gemuk,
ceria, siswa sering terlambat masuk sekolah dan kadang-kadang tidak masuk tanpa
keterangan.
4.1.2.4 Siswa D. adalah
seorang putra yang duduk di kelas 2 ……………………... Ia adalah siswa yang sering
tidak masuk tanpa keterangan dan sudah dibimbing oleh wali kelasnya tetapi
tidak ada perubahan. Siswa dari keluarga broken home, ia tinggal dengan ayahnya
yang sudah menikah lagi dengan ibu tiri dan mempunyai satu adik yang masih
kecil umur 2 tahun dari pernikahan ayahnya dengan ibu tiri tersebut.
4.1.2.5 Siswa E adalah seorang
siswa yang membolos pada jam-jam tertentu. Suatu ketika pernah ditemukan di
ruang UKS sedang tidur, dan kadang di rumah penjaga sekolah.
4.1.2.6 Siswa F adalah seorang
siswa yang pandai bergaul tetapi sering bergaul dengan anak luar, ini terlihat
pada pengamatan guru pembimbing ketika pulang sekolah, siswa sering dijemput
oleh anak luar yang sudah tidak sekolah lagi. Siswa tinggal dengan neneknya dan
kakaknya yang sibuk bekerja. Kedua orang tua masih ada dan tinggal tidak jauh
dari rumah neneknya. Walaupun sering tidak masuk tetapi jika ulangan pasti
mengikuti dan nilainya cukup rata-rata 6.
Penyajian data di atas hasilnya didapat dari metode
pengamatan, dan wawancara. Di bawah ini akan diuraikan penyebab siswa rawan
putus sekolah berdasarkan wawancara dengan berbagai pihak.
4.1.2.7 Siswa A : “Saya sebenarnya mau sekolah tapi
bagaimana dengan nenek, jadi saya harus sering membantu mencari nafkah,
walaupun kakak saya sebenarnya tidak memperbolehkan tapi bagaimana lagi untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak mencukupi jika dari kakak saja”
4.1.2.8 Siswa B : “Saya sudah dijodohkan dengan
tetangga saya oleh ibu, bahkan sudah dilamar dan ibu berjanji lulus SMP 02
MAJENE akan dinikahkan. Tetapi akhir-akhir ini nenek marah-marah karena saya
pacaran dengan anak lain yang bukan dijodohkan itu. Jadi dari pada terjadi
apa-apa, maka kata nenek kalau ibu datang dari merantau langsung saya
dinikahkan saja biar tidak was-was”.
Ini didukung dari pengamatan peneliti ketika berkunjung
ke rumah yang ditinggali oleh siswa tersebut, ternyata keadaan rumah sangat
mengkhawatirkan, sepi dan jika ada teman yang berkunjung bebas masuk kamar
tanpa sepengetahu an nenek.
4.1.2.9 Siswa C : “Pak, rumah saya jauh, jadi jika
tidak dapat angkutan kadang saya tidak masuk. Dan kata bapak, saya akan
dibelikan sepeda motor untuk sekolah saya yang nanti saya titipkan dekat
sekolah, kadang pula saya masuk tapi terlambat datang, jadi jika saya tidak
masuk karena malu sering terlambat. Maka lalu saya ke rumah teman sampai
waktunya pulang sekolah agar tidak dimarahi ayah”.
4.1.2.10 Siswa D : Siswa di rumah yang mendampingi
adalah ibunya karena ayahnya seminggu sekali baru pulang, ayahnya kerja di
Surabaya, ibunya kalah dengan siswa. Ibunya sudah melarang tapi siswa tidak
menggubris. Siswa sering pergi ke rumah temannya dan ke tempat bilyard pulang
malam
4.1.2.11 Siswa E, siswa ini tertib masuk sekolah
tetapi sering pada jam-jam pelajaran, tidak ikut pelajaran dengan alasan
gurunya menerangkan tidak enak, mencatat saja. bosan, ada juga yang karena
tidak mengerjakan PR.
4.1.2.1.12 Siswa F, siswa ini sebenarnya cukup baik
dan pada saat ulangan-ulangan pasti masuk tapi sebagian besar sering tidak
masuk tanpa keterangan. Setiap tiadak masuk, jika ditanyakan ke temannya (titip
pesan) besoknya lalu masuk. Begitu juga setelah diadakan home visit, besoknya
pasti siswa masuk lagi.
4.1.3 Layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang
diberikan antara lain :
Siswa A
Memberikan motivasi pada siswa dan kakaknya tentang pentingnya wajib
belajar 9 tahun, jadi minimal lulus SMP, melalui layanan konseling secara
kontinyu pada siswa, melalui layanan penempatan dan penyaluran siswa di sekolah
melalui pemberian bea siswa, motivasi siswa secara langsung di tempat kerja
siswa, dengan menambah uang saku ketika berkunjung ke lokasi tersebut.
Kerjasama dengan wali kelas untuk berperan aktif mendampingi siswa.
Siswa B
Layanan
Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang diberikan pada siswa adalah
memberikan pemahaman pengetahuan cara bergaul yang baik dengan teman lawan
jenis melalui konseling secara berkelanjutan. Guru pembimbing juga mengadakan pendekatan
dengan neneknya agar siswa tidak dinikahlan sebelum lulus SMP.
Siswa C
Layanan
Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang diberikan hanyalah kerjasama dengan
orang tuanya karena orang tuanya adalah orang yang berPendidikan Agama Islam
yang memahami betul pentingnya pendidikan. Siswa diajari untuk memanfaatkan
waktu walaupun jauh tetapi siswa harus berusaha datang tepat waktu.
Siswa D
Adalah
siswa yang sudah terjerumus dengan pergaulan yang kurang baik disekitar
rumahnya. Jadi satu-satunya layanan adalah meningkatkan kerjasama dengan orang
tua agar siswa tidak diperbolehkan sering keluar malam, apalagi dihari-hari
efektif sekolah.
Siswa E
Penyebab
masalah siswa adalah dari kemapuan belajarnya jadi layanan konseling intinya
membiasakan semaksimal mungkin untuk mengatasi kejenuhan dalam belajar demi
peningkatan prestasi belajar. Jadi jika yang dikerjakan tugas-tugas dari guru
belum maksimal, pasti guru menghargai usaha siswa dari pada tidak mengerjakan
sama sekali.
Siswa F
Siswa
ini menyepelekan sekolah karena menganggap cukup mampu dalam pelajaran. Jadi
layanan yang diberikan, layanan konseling tentang penegakkan disiplin tata
tertib sekolah. Jadi jika tidak masuk tanpa keterangan ada tahapan-tahapan yang
dilalui dalam penanganannya yaitu antara lain : peringatan lisan, tertulis,
pemberian sanksi dan skorsing, pengembangan ke orang tua. Perlu diberikan
pemahaman bahwa walaupun nilai akademik bagus tetapi jika nilai kepribadian
kurang baik tetap terkena penegakkan disiplin sekolah.
4.2 Analisis
Data
Dari penyajian
data di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
4.2.1
Siswa-siswa yang diduga rawan putus sekolah diketahui
dari informasi wali kelas, guru bidang studi, pengurus kelas utamanya
sekretaris kelas, karyawan dan siswa itu sendiri melalui wawancara denga guru
pembimbing serta dokumen buku absent, buku kumpulan nilai, jurnal harian kelas,
buku rekapitulasi pelanggaran tata tertib.
4.2.2
Penyebab siswa rawan putus sekolah antara lain :
4.2.2.1
Keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu
4.2.2.2
Orang tua wali murid yang kurang perduli pentingnya
Pendidikan Agama Islam wajib belajar 9 tahun.
4.2.2.3
Orang tua atau keluarga yang sibuk mencari nafkah demi
kepentingan keluarga.
4.2.2.4
Pengawasan yang kurang tentang pergaulan siswa di luar
sekolah.
4.2.2.5
Letak rumah yang cukup jauh.
4.2.2.6
Kemampuan belajarnya kurang.
4.2.3
Usaha-usaha penanganan siswa bermasalah
4.2.3.1
Layanan Konseling
Layanan konseling adalah layanan yang paling utama
untuk keberhasilan pengatasan masalah.
4.2.3.2
Layanan Penempatan Penyaluran.
Layanan ini diberikan dengan cara penyaluran siswa
dari keluarga yang kurang mampu untuk mendapatkan bea siswa.
4.2.3.3
Layanan Informasi
Layanan informasi diberikan pada orang tua murid/wali murid dan siswa
tetntang pentinya wajib belajar 9 tahun (lulus SMP/SMP)
4.2.3.4
Layanan Pembelajaran
Layanan yang diberikan pada siswa untuk membiasakan diri selalu mematuhi
tata tertib sekolah antara lain jika tidak masuk sekolah karena sakit saja dan
keperluan keluarga surat keterangan dokter atau surat dari orang tua.
Membiasakan diri pula untuk bergaul dengan teman yang baik agar tidak terpengaruh
untuk berbuat yang tidak baik.
4.2.4 Layanan
yang diberikan pada siswa tersebut hasilnya sebagai berikut :
a. Siswa
A selama dibimbing oleh guru pembimbing siswa tidak terjadi putus sekolah
begitu juga dengan siswa B dan C hanya memang perlu perhatian yang ekstra dari
guru pembimbing dan wali kelas.
b.Siswa D dan Siswa F terjadi putus
sekolah, mengingat guru pembimbing tidak bisa secara rutin memantau dan
mendampingi siswa, orang tua tidak mendukung sama sekali, ini terbukti selama
panggilan orang tua untuk orang tua D hanya datang sekali dan itupun orang tua
mengatakan bahwa di rumah tidak ada yang mengawasi, ayah baru ketemu dengan
siswa paling cepat seminggu sekali sedang ibunya sudah kuwalahan dengan siswa,
sedangkan F orang tua tidak pernah datang memenuhi panggilan orang tua, begitu
juga ketika diadakan home visit orang tua tidak pernah ketemu.
c. Siswa
E tidak terjadi putus sekolah mengingat hanya karenma kurang kemampuan dalam
belajar. Jadi hanya karena membutuhkan motivasi saja agar siswa terus berusaha
untuk mengerjakan tugas dari guru semampunya dan jika menemui kesulitan bisa
belajar kelompok.
Jadi keberhasilan dari upaya guru pembimbing untuk
mencegah siswa putus sekolah adalah 67 %. Lebih jelasnya data siswa rawan putus
sekolah di dapat dari berbagai sumber informasi dan dokumen pendukung bisa
dilihat pada diagram 1 dan 2 di bawah ini :
Diagram
1
Jenis sumber
informasi data siswa rawan putus sekolah
Keterangan :
A = Informasi
dari wali kelas
B = Informasi
dari guru bidang studi
C = Informasi
dari karyawan

D
= Informasi dari siswa yang bersangkutan
Diagram
2
Jenis
dokumen data siswa rawan putus sekolah
Keterangan :
A = Informasi
dari wali kelas
B = Informasi
dari guru bidang studi
C = Informasi
dari karyawan
D = Informasi
dari siswa yang bersangkutan
Keterangan /
analisis diagram :
1.
50 % (3 dari 6 anak yang diduga rawan putus sekolah)
diperoleh dari wali kelas dan selebihnya dari guru bidang studi, karyawan
sekolah lainnya, siswa yang bersangkutan, masing-masing 16,60 % (1 dari 6
anak).
2.
50 % (3 dari 6 anak yang diduga rawan putus sekolah)
didapat dari dokumen buku absensi kelas siswa yang dipegang oleh sekretaris
kelas masing-masing. Selebihnya masing-masing 1 anak = 16,60 % didapat dari
dokumen buku daftar nilai siswa yang dipegang oleh guru, buku pelanggaran tata
tertib siswa dan tanpa dokumen..

Diagram
3 : Faktor penyebab masalah rawan putus sekolah, dapat dilihat pada diagram
dibawah ini.
Faktor penyebab siswa rawan putus sekolah
Keterangan/analisia gambar :
66,60 % = Keadaan ekonomi orang tua kurang mampu,
pada siswa A, B, D, F menyebabkan orang tua kurang perduli dengan pentingnya
Pendidikan Agama Islam putra/putrinya.
Pengawasanyang kurang karena sibuk bekerja di luar
kota/luar negeri tidak serumah dengan putra/putrinya.
16,60 % = Kemampuan belajar siswa yang kurang,
mengakibatkan kejenuhan sehingga menghindar dari tugas-tugas dari pelajaran
yang dirasa memberatkan siswa, ini terjadi pada siswa E.
16,60 % = Letak rumah jauh dari sekolah dan
transportasi namun sulit sehingga mengakibat siswa sering terlambat masuk
sekolah bahkan tidak masuk sekolah, ini terjadi pada siswa C.

Diagram
4 : Layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang diberikan untuk mencegah
siswa rawan putus sekolah merupakan layanan terintegrasi dan sebagai jantung
layanan ialah pada layanan konseling, untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada
diagram di bawah ini :
Diagram 4
Jenis Layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam sebagai
upaya mencegah siswa putus sekolah.
Keterangan/analisa diagram :
Dari 6 anak yang diduga rawan putus sekolah semua mendapat
layanan konseling secara kontinyu dan berkelanjutan. Dari hasil layanan
konseling ditindak lanjuti dengan layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam lainnya
antara lain :
Siswa
A :
Diadakan
home visit/kunjungan rumah/lokasi pekerjaan siswa dan disalurkan untuk
mendapatkan bea siswa JPS (Layanan Informasi dan Layanan Penempatan
/Penyaluran).
Siswa
B :
Diadakan
home visit untuk mengadakan informasi pemahaman ke nenek siswa tentang
pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi siswa (layanan informasi)
Siswa
C :
Diadakan
penggilan orang tua siswa ke sekolah tentang informasi kesulitan transportasi
siswa dan bersama-sama mencari solusi buat putranya (layanan informasi).
Siswa
D :
Diadakan penggilan orang tua siswa ke sekolah
tentang informasi peningkatan pengawasan putranya dirumah utamanya jam belajar
di rumah dan sekolah (layanan informasi).
Siswa
E :
Diadakan
tindak lanjut layanan pembelajaran dengan kerjasama dengan orang tua siswa untuk pengawasan belajar di
rumah dan kerjasama dengan guru bidang studi yang kurasa kurang mampu oleh
siswa melalui cara bimbingan khusus pembelajaran (layanan pembelajaran).
Siswa
F :
Diadakan tindak lanjut layanan informasi ke orang
tua untuk sama-sama memberikan pemahaman pada siswa, bahkan sekolah tidak hanya
dituntut nilai yang cukup tetapi ketertiban absensi, kedisiplinan siswa juga
mendapat penilaian siswa dalam pelajaran.
Kesimpulan analisa :
Dari 6 siswa, ternyata 4 anak yang berhasil tidak putus
sekolah setelah diadakan observasi sampai siswa dinyatakan tamat atau lulus
dari SMP 02 MAJENE yaitu :
Siswa A, B, C, E = Lulus SMP
Siswa D, F = Terjadi putus sekolah saat siswa kelas 2
Jadi dengan layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam ternyata
cukup mampu untuk mencegah siswa putus sekolah, tetapi perlu peningkatan
layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam pada masa-masa selanjutnya
mengingat keberhasilan belum mencapai 100 % hanya 67 %. Hal ini bisa dilihat
pada tabel rekapitulasi sumber data siswa
putus sekokah, penyebab layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang
diberikan dan hasil layanan.
Rekapitulasi Sumber Data Siswa Putus Sekolah, Penyebab,
Layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang diberikan dan Hasil Layanan.
|
NO
|
SISWA
|
DATA RAWAN PUTUS SEKOLAH
|
Faktor Penyebab
Siswa Rawan Putus Sekolah
|
Layanan
B K Yang diberikan
|
Hasil layanan
|
|
Sumber
Informasi
|
Jenis
Dokumen
|
|
1
|
A
|
Karyawan sekolah
|
Buku Absensi
|
Keadaan ekonomi orang tua kurang mampu, orang tua
sibuk bekerja, siswa tinggal dengan nenek saja
|
Layanan konseling dan layanan penempatan atau
penyaluran
|
Tidak tejadi putus sekolah atau berhasil
|
|
2
|
B
|
Siswa yang bersangkutan
|
-
|
Keadaan ekonomi orang tua TKW di Arab, siswa tinggal
dengan nenek saja
|
Konseling dan layanan informasi
|
Tidak terjadi putus sekolah/
berhasil
|
|
3
|
C
|
Wali kelas
|
Buku absensi
|
Letak rumah jauh, sulit transportasi kurang
pengawasan orang tua
|
Layanan konseling dan informasi ke orang tua
|
Tidak terjadi putus sekolah/
Berhasil
|
|
4
|
D
|
Wali kelas
|
Buku absensi
|
Keluarga kurang mampu, ayah kerja di luar kota, ibu
sibuk, kurang pengawasan dari orang tua
|
Layanan konseling dan informasi ke orang tua
|
Terjadi putus sekolah/ gagal
|
|
5
|
E
|
Guru Bidang Studi
|
Buku pelanggaran tata tertib siswa
|
Kemampuan belajar kurang
|
Layanan konseling dan layanan pembelajaran
|
Tidak terjadi putus sekolah/
Berhasil
|
|
6
|
F
|
Wali Kelas
|
Buku pelanggaran tata ytertib siswa
|
Kurang pengawasan orang tua, keadaan ekonomi kurang
mampu siswa tinggal denganneneknya
|
Layanan konseling dan informasi ke orang tua/
keluarga yang mewakili
|
Terjadi putus sekolah/ gagal
|
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Wajib belajar 9 tahun harus didukung oleh semua pihak
yaitu sekolah, pihak orang tua, dan masyarakat, agar keberhasilan bisa
diwujudkan di Negara ini. Bangsa Indonesia harus sudah bangkit dari kesadaran
akan pentingnya wajib belajar 9 tahun bagi anak-anak bangsa sebagai penerus,
mengingat peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat dibutuhkan oleh
Negara kita.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa :
Siswa yang diduga rawan putus sekolah diketemukan dari hasil informasi
dan wawancara dari semua pihak, yaitu antara lain dari siswa itu sendiri, wali
kelas, guru bidang studi, karyawan serta didapat dari dokumen buku absensi
kelas, jurnal harian kelas, buku pelanggaran tata tertib sekolah dan buku
kumpulan nilai siswa.
Penyebab siswa rawan putus sekolah juga bermacam-macam,
yaitu antara lain kemampuan belajar yang kurang, kemampuan ekonomi orang tua
yang kurang mampu, kurang perhatian dan pengawasan dari orang tua, lingkungan
pergaulan teman siswa yang kurang baik, kurang kesadaran orang tua tentang pentingnya Pendidikan Agama
Islam anak, letak rumah yang cukup jauh dari sekolah.
Layanan yang diberikan guru
pembimbing terhadap siswa rawan putus sekolah ialah layanan informasi, layanan
konseling. Layanan pembelajaran, dan layanan penempatan dan penyaluran. Dari 6
siswa yang diduga rawan putus sekolah 4 orang yang tidak terjadi putus sekolah.
5.2 Saran-saran
Mengingat pentingnya peningkatan kualitas sumber daya
manusia di Indonesia yang ditempuh melalui wajib belajar 9 tahun salah satunya
maka saran yang bisa diberikan ialah :
Bagi pemerintah
diharapkan memperbesar pemberian bea
siswa bagi siswa yang tidak mampu ekonominya baik dari segi kuantitas penerima
tetapi juga nominal nya mengingat dua puluh ribu rupiah perbulan persiswa
tidaklah mencukupi ke-butuhan belajar siswa.
Bagi orang tua diharapkan meningkatkan keprdulian,
perhatian dan pengawasan kepada siswa baik belajar di rumah ataupun lingkungan
bergaul siswa. Sebab jika orang tua sudah tidak perduli lagi maka siapa lagi
yang ber tangungjawab akan Pendidikan Agama Islam putra-putrinya.
Bagi sekolah khususnya guru pembimbing hendaknya
meningkatkan usaha pengentasan masalah bagi siswa rawan putus sekolah dan upaya
prventifpun ditingkatkan dengan bekerjasama dengan semua pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi. 1997. Prosedur
penelitian. Jakarta:PT Rineka Cipta
Bellany, Carol. 1977. Laporan
Situasi Anak-anak di Dunia. Jakarta PT Penebar Swadaya.
Depdikbud. 1995 Pelayanan Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam . Jakarta Depdikbud
Depdikbud. 1994 Petunjuk
Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Proyek SLTP Jawa Timur
Gunarsa, Singgih D. 1985. Psykologi
Untuk Membimbing. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia
Harian Surya. 1988. “Krisi
Ekonomi mengancam Pendidikan”. Surabaya:PT Antara Surya Jaya
Hadi Sutrisno. 1986 metodologi
Riset. Yogjakarta: Erlangga
John M dan Sadeli, Hasan. 1975. kamus
Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia
Moloeng, J.Lexy. 2001.
MetodologiPenelitian Kuantitatif.
Bandung: PT Remaja Rusda Karya.
Mapiare, Andhi. 1984. pengantar Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional
Menko Kesra dan Taskin. 1999. Pedoman Pelaksanaan Pendataan Anak Usia
Sekolah dari Keluarga Miski. Jakarta: Kantor Menko Kesra dan Taskin.
Sukardi, Dewa Ketut. 1985. Pengantar
Teori Konseling. Jakarta: PT Ghalia Indonesia
Suratman. 1991. Pedoman
Pendidikan Agama Islam Dasar. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana.
USMPn, CH. 1997. Geografi. Bandung: Djadmiko.
Winkel, WS. 1987. Bimbingan dan
Pendidikan Agama Islam di Sekolah menengah. Jakarta: PT Gramedia.
UPAYA
MENCEGAH SISWA PUTUS SEKOLAH
MELALUI LAYANAN BIMBINGAN DENGAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP 02 MAJENE SULAWESI BARAT
TAHUN 2008/2009
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Untuk Memenuhi Prasarat
Pengembangan Profesi
Usul Kepangkatan dari Gol IVa ke
Gol IVb
di lingkungan Pendidikan
OLEH:
Dra.
Hj. RAMADHANI
Nip. 19570402 198603 2 002
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MAJENE
SMP NEGERI 02 MAJENE
SULAWESI BARAT
LEMBAR
PENGESAHAN :
UPAYA MENCEGAH SISWA PUTUS SEKOLAH
MELALUI LAYANAN BIMBINGAN DENGAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM DI SMP 02 MAJENE SULAWESI BARAT
TAHUN 2008/2009
Oleh :
Dra. Hj. RAMADHANI, M.Pd
NIP. 19570402 198603 2 002
Diketahui Oleh :
|
Ketua
PGRI
H. MITHHAR THALA ALI, S.Pd. M.Pd
Npa. 2003 00 0001
|
Kepala Sekolah
HANNAN SYAKUR, S.Pd
Nip. 19530819 197711 1 001
|
Kepala Dinas Pendidikan
Kab. Majene
Drs. MUH. NADJIB ATJO, MM
Nip. 19551110 198708 1 001
KATA PENGANTAR
Puji
syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
petunjuk-Nya, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih
peneliti sampaikan kepada :
1. …………….
sebagai kepala sekolah SMP 02 MAJENE …………………….
yang telah memberi kan kesempatan, kemudahan serta arahan yang sangat
besar manfaatnya bagi peneliti.
2. Bapak/Ibu
guru ………………….. yang memegang bidang studi sama dengan peneliti, yang telah
berkenan membantu pengambilan data penelitian ini.
3. Semua
pihak yang telah membantu penelitian ini yang tidak mungkin disebutkan satu
persatu di sini.
Semoga bantuan semua pihak itu menjadi amal shalih
di sisi Allah SWT. Harapan peneliti, hasil penelitian ini bermanfaat bagi
pengajaran.
, 2009
Peneliti,
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ............................................................................................. i
LEMBAR
PENGESAHAN .................................................................................... ii
KATA
PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR
ISI ........................................................................................................... iv
DAFTAR
TABEL ................................................................................................... v
ABSTRAKSI ........................................................................................................... vii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah ........................................................................ 1
1.2 Perumusan
Masalah ................................................................................ 5
1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………………… 5
1.4 Manfaat Penelitian ………………………………………………. 6
BAB
II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Bimbingan dan Pendidikan
Agama Islam ……………………… 7
2.2 Rawan Putus Sekolah (rawan
drop out) ………………………… 8
2.3. Layanan Bimbingan dan
Pendidikan Agama Islam ……………......... 11
BAB
III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ....................................................................................... 15
3.2 Lokasi Penelitian ................................................................................... 16
3.3 Metode Pengumpulan Data ................................................................... 16
BAB
IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.1
Penyajian Hasil Penelitian ................................................................ 20
4.1.1. Tahap
Pra Lapangan ................................................................ 20
4.1.2. Tahap
Pekerjaan Lapangan ..................................................... 22
4.1.3. Layanan
Bimbingan dan PAI yang diberikan …………......... 26
4.2 Analisa Data
........................................................................................ 28
BAB
V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ........................................................................................... 40
5.2 Saran ..................................................................................................... 40
DAFTAR
PUSTAKA
DAFTAR
GAMBAR
DAFTAR
GAMBAR
|
NO.
|
JENIS DIAGRAM
|
HALAMAN
|
|
1.
|
Data macam Informasi Putus sekolah
|
30
|
|
2.
|
Jenis Dokumen rawan Putus Sekolah
|
31
|
|
3.
|
Penyebab Siswa Rawan Putus Sekolah
|
32
|
|
4.
|
Layanan Bimbingan Kanseling
|
33
|
ABSTRAKSI
Dra. Hj. Ramadhani, M.Pd : Upaya Mencegah Siswa Putus Sekolah
Melalui Layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam di SMP 02 Majene tahun 2009.
Kata Kunci :
Putus Selokah, Layanan bimbingan dan konseling.
Penelitian
inidilaksanakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan yaitu untuk
mengetahui gambaran siswa yang rawan putus sekolah SMP 02 MAJENE, khususnya di SMP
02 MAJENE serta untuk mengetahui layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam yang
di diberikan pada siswa guna mencegah putus di SMP.
Bimbingan
dan Pendidikan Agama Islam adalah bagian yang integral dalam pendidikan,
khususnya di SMP 02 MAJENE Negeri 2 Jember, maka guru pembimbing (konselor)
juga ber upaya membantu pemerintah untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun
utamanya di tingkat SMP.
Adapun
metode yang digunakan untuk memperoleh jawaban seperti yang tertulis di tujuan
penelitian ini adalah metode wawancara, observasi dan dokumentasi sedangkan
teknik analisa adalah tehnik analisa non statistic, yaitu dengan bentuk diagram
dan tabel untuk memperjelas hasil analisis data.
Hasil
analisis data menunjukkan bahwa data siswa rawan putus sekolah didapat dari
sumber informasi berbagai pihak, yaitu
50 % dari wali kelas, masing-masing 16,6 % dari guru bidang studi , karyawan
lainnya dan dari siswa yang bersangkutan yang merasa sebagai siswa rawan putus
sekolah, serta didapat dari dokumen-dokumen sekolah yaitu dari buku absensi
kelas siswa 50 %, dan masing-masing 16,6 % dari daftar nilai siswa, buku
pelanggaran tata tatib siswa dan tanpa dokumen.
Faktor
penyebab siswa rawan putus sekolah yaitu antara lain 66,6 % karena keadaan
ekonomi orang tua yang mengakibatkan siswa membantu mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan siswa, orang
tua kurang perduli pada siswa karena
sibuk bekerja di luar kota bahkan ada yang di luar negeri, masing-masing 16,6 %
karena letak rumah jauh/sulit transportasi dari rumah ke sekolah, 16,6 % karena
kemampuan belajar kurang.
Dari
berbagai layanan Bimbingan dan Pendidikan Agama Islam mengakibatkan 67 %
berhasil tidak putus sekolah. Mengingat masih 33 % siswa terjadi putus
sekoiolah, maka saran untuk semua pihak untuk terus bekerjasama dalam upaya
mencegah siswa putus sekolah di masa-masa mendatang.